rabu lalu, saya mengajak mahasiswa membentuk kelompok yang dibagi-bagi untuk menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang jejaring sosial, surat elektronik, blog, portal berita, pesan instan, mesin pencari, dan mailing list.
walau tak sempurna, rata-rata bisa menjelaskan pengertian dari istilah yang ditugaskan, plus manfaat yang mereka dapatkan dari menggunakannya. hingga sampailah pada kelompok terakhir yang harus menjelaskan apa itu mailing list.
sayang sekali mereka sama sekali tak paham apa yang dimaksud dengan mailing list. seisi kelas pun kompak menggeleng ketika ditanya apakah bisa membantu memberikan penjelasan. mengira-ngira pun tak berani. saya jadi termangu, sekaligus bingung mencari-cari penjelasan yang kiranya mudah mereka terima. karena sampai detik ini saya juga belum tahu apa istilah mailing list dalam bahasa Indonesia… surat menyurat terdaftar? aih, apa iya? kalangan pengguna lebih akrab menyebutnya dengan istilah milis.
sebisa mungkin saya menjelaskannya dengan terlebih dahulu memberikan contoh bahwa keikutsertaan seseorang dalam mailing list adalah ketika ia mendaftarkan diri dalam sebuah grup. dan tentu saja grup paling populer di internet adalah yahoogroups. dan bla..bla..bla… saya berusaha menjelaskan sampai mereka manggut-manggut, mudah-mudahan mengerti.
terus terang frustrasi juga menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan internet tetapi saat mengajar tak terhubung dengan internet sama sekali
keluar dari kelas, saya jadi berpikir. jangan-jangan memang mailing list sudah mulai kehilangan popularitasnya. saya sendiri aktif di mailing list saat menjadi anggota grup alumni jurusan, dalam rangka komunikasi anggota kelompok saat kuliah dan mencoba mengikuti beberaa grup yang kelihatannya punya topik menarik yang sesuai minat saya.
namun itu tak berlanjut hingga kini, karena saya terlalu malas untuk membuka satu demi satu email yang bertumpuk dari grup yang saya ikuti. mengubahnya dalam bentuk digest harian pun tak banyak membantu. apalagi dalam setiap email, banyak sekali pengulangan-pengulangan isi surat sebelum-sebelumnya yang tidak dihapus dan membuatnya tak nyaman dibaca.
apalagi ketika datang facebook. dengan segera komunitas alumni jurusan saya membuat grup di sana, dan mendapatkan tampilan yang jauh lebih menarik dan mudah dibaca per komentar yang masuk.
mahasiswa saat ini, yang sudah terkena demam jejaring sosial, wajar jika mereka tak sempat mengenal milis. karena fungsi yang sama, yakni mengirim pesan untuk kelompok tertentu sudah bisa dilakukan oleh aplikasi jejaring sosial.
sesekali ketika iseng, saya juga suka melihat-liat email yang datang dari grup-grup di inbox yahoo saya. ternyata jumlahnya tak sedahsyat dulu. jika di masa hingga pertengahan tahun 2000-an jumlah yang masuk per hari per grup bisa mencapai 20-30 email, sekarang berkurang drastis tak sampai sepertiganya.
apakah mereka yang bergabung di milis juga berpikiran serupa dengan saya? jenuh dengan terlalu banyaknya email yang seringkali tak penting dan tak ada hubungannya dengan diri saya? membukanya satu demi satu hanya membuang waktu. toh, jika saya ingin suatu informasi, sejauh ini mesin pencari cukup membantu.
jadi betul popularitas milis mulai memudar?